Sejarah di Balik Rasa Makanan Tradisional

Makanan adalah salah satu hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Ada banyak jenis dan macam bentuk makanan. Mulai dari yang tradisonal, makanan ringan, jajanan, ataupun makanan internasional. Oleh karena itu makanan memiliki daya tarik tersendiri, baik dari bentuk makanannya, bahan-bahan pembuatnya, hingga nilai historial dari makanan tersebut.

Nah, penasaran gak sih darimana makanan-makanan tradisioal di Indonesia ini berasal. Lalu siapakah yang memperkenalkannya pertama kali?

Sejarah Makanan Tradisional  yang Jarang Diketahui

1. Kue Semprong

Kue semprong adalah kue kering tradisional Indonesia. Berbentuk silinder panjang seperti pipa dengan rasa yang khas dan unik. Semprong merupakan camilan hasil perpaduan kuliner Indonesia dan Eropa. Berdasarkan penelusuran sejarah, semprong sangat mirip dengan krumkake. Camilan khas Skandinavia yang dibawa oleh bangsa Portugis dan Belanda ketika datang ke nusantara.

Tampilan, motif cetakan dan cara membuat semprong memang serupa dangan krumkake. Meski demikian bahan dasar pembuatan semprong jauh berbeda karena sudah dimodifikasi agar sesuai dengan bahan dasar yang terdapat di nusantara, serta disesuaikan pula dengan lidah orang setempat. Komposisi umum semprong adalah tepung beras, telur, gula, santan dan kayu manis

2. Tahu

Saat ini ada tiga teori mengenai asal usul tahu. Berdasarkan sumber Yang paling umum dari tiga teori

  • Teori pertama menyebutkan tahu ditemukan di Cina utara sekitar tahun 164 sebelum Masehi oleh Lord Liu An, pada masa Dinasti Han. Kurangnya informasi yang konkret mengenai periode ini menjadikannya teori ini agak sulit untuk dibuktikan. Apakah memang yang menemukan metode pembuatan tahu itu adalah Lord Liu An atau bukan. Alasannya, dalam sejarah Cina, berbagai penemuan penting seringnya dihubungkan dengan para pemimpin dan figur penting dan berkuasa pada zaman itu.
  • Teori kedua menyebutkan, metode pembuatan tahu ditemukan secara tidak sengaja. Ketika bubur kedelai yang mendidik tumpah dan bercampur dengan air laut yang tak murni. Garam laut yang mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg), bercampur dengan susu kedelai sehingga membeku dan menghasilkan bahan gel seperti tahu.
  • Teori ketiga memercayai bahwa orang Cina kuno mempelajari metode membekukan susu kedelai. Dengan cara meniru teknik pembekuan susu yang dimiliki orang-orang Mongol dan India Timur. Bukti utama teori ini adalah adanya persamaan etimologis antara istilah Cina untuk menyebut produk susu terfermentasi. Masyarakat Mongol menyebut rufu yang berarti susu rusak dan istilah doufu atau tofu.

3. Kembang Goyang

Kue kembang goyang yang selama ini kita ketahui adalah kue tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Betawi. Kue yang cara pembuatannya digoreng dalam minyak yang banyak ini masih menggunakan resep turun temurun, yaitu: gula, margarin, dan telur, yang kemudian dicampur dengan tepung terigu, tepung sagu, dan tepung beras.

Uniknya dari makanan tradisional ini adalah asal muasalnya, dilansir dari akun tiktok alwijo dalam sebuah konten tanya jawabnya bersama narasumber yang bernama Eren salah seorang anggota Komunitas Historia Indonesia menjelaskan bahwa kue kembang goyang ini berasal dari budaya Norwegia atau yang kita kenal Suku Viking. Suku Viking  terkenal sebagai penjelajah dan pejuang hebat. Mereka membangun jalur perdagangan di seluruh dunia.

4. Singkong

Tanaman singkong yang selama ini kita ketahui menjadi salah satu bahan baku berbagai makanan tradisional di Indonesia ini faktanya bukan asli dari negara Indonesia, lho. umbi khas Indonesia ini berasal dari Amerika Selatan, yang dibawa ke Indonesia oleh Bangsa Portugis melalui jalur perdagangan di Malaka sekitar abad ke-16.  Dilansir dari laman historia.id pada tahun 1852 singkong disebar luaskan ke daerah Jawa, tepatnya di Jawa Timur naum penyebaran tanaman ini di tanah Jawa masih lambat. Sampai tahun 1875 konsumsi singkong masih rendah. Baru saat permulaan abad ke-20 konsumsi singkong mulai meningkat dan pembudidayaannya juga meluas.

5. Tumpeng

Tumpeng adalah salah satu makanan tradisional Indonesia, makanan ini berupa nasi kuning yang disajikan dalam bentuk kerucut. Dengan dikelilingi aneka lauk dan hidangan pendamping lainnya. Tumpeng ini sering kita jumpai di acara-acara keagaman atau perayaan suatu peristiwa, seperti perayaan 17 Agustus perayaan ulang tahun atau acara lomba masak ibu-ibu PKK. Sekarang ini tumpeng bukan lagi makanan yang dianggap sakral namun sudah termasuk makanan yang merakyat. Karena sudah sangat lazim kita jumpai dimana-mana.

Tapi tahukah kalian dibalik nikmatnya nasi tumpeng ada sejarah dan cerita dibaliknya. Lalu sejarah unik apa yang melatar belakangi makanan ini, mari kita simak.

Menurut refrensi, pada mulanya tumpeng digunakan masyarakat Jawa dan sekitarnya (termasuk Madura dan Bali), sebagai  persembahan kepada gunung-gunung sebagai bentuk tanda penghormatan bahwa ada leluhur yang mendiami gunung-gunung tersebut. Hal ini terjadi sejak lama, jauh sebelum agama masuk ke Nusantara

Saat agama Hindu sudah masuk ke Nusantara Nasi tumpeng baru mulai dibuat kerucut. Kerucut merupakan tiruan bentuk gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa-dewi mereka. Setelah Islam masuk ke Nusantara, pembuatan tumpeng kembali disesuaikan dengan kaidah Islam, dan kemudian menjadi nasi tumpeng yang kita kenal hingga sekarang. Biasa digunakan untuk perayaan tertentu seperti syukuran, kenduri, dan sebagainya.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan beragam kuliner otentik, tapi di balik lezatnya hidangan tradisional khas Indonesia ini ternyata menyimpan sejarah perjalanan yang panjang hingga membentuk suatu hidangan khas yang masih tetap eksis hingga sekarang. Dengan mengetahui sejarah dibalik terciptanya makanan tradisonal ini diharapkan kita sebagai generasi pewaris akan lebih menghargai apa yang telah nenek moyang kita dulu ciptakan.

Sejarah di Balik Rasa Makanan Tradisional | Risti | 4.5